
China-ASEAN FTA Flag Source
Perjanjian Kawasan Perdagangan Bebas ASEAN-China atau lebih dikenal dengan istilah ACFTA telah berjalan selama satu tahun terhitung dari bulan Januari tahun 2010.
ACFTA sendiri merupakan suatu kebijakan perdagangan bebas antara negara-negara ASEAN dengan China. Usulan pertama dicetuskan oleh China di bulan November 2000 dan kemudian ditandatangani pada tanggal 4 November 2002 di Phnom Penh, Kamboja oleh sebelas kepala pemerintahan. China berani mencetuskan ide ini karena mereka telah memprediksi bahwa mereka akan menggeser Amerika Serikat di posisi ketiga dalam hal perdangangan dengan ASEAN setelah Jepang dan Uni Eropa di posisi satu dan dua.
Setahun perjanjian ini berjalan, ternyata produk China menguasai setiap lini di negeri ini karena menyediakan produk dengan kualitas seadanya dengan harga yang murah meriah semakin membuat produk China terus laku terjual.
Indonesia terkejut dengan pesatnya perkembangan perekonomian China yang terus menunjukkan dominasi mereka terhadap dunia luar. Jika kita membaca liputan harian Kompas dalam 3 hari terakhir ini yang membahas bahwa produk Indonesia sulit bersaing akibat harga bahan baku yang tinggi membuat permintaan akan produk China semakin meningkat akibat harga jual yang dibawah produk dalam negeri dan hal ini pastinya menguntungkan konsumen yang dapat membeli produk dengan harga yang lebih murah.
Jika saya diposisikan sebagai seorang pembeli, maka secara naluri saya akan membeli produk yang lebih murah karena saya akan memiliki kesempatan membeli banyak produk. Sedangkan jika saya berada di posisi sebagai produsen dalam negere, maka saya akan mengalami kerugian secara finansial karena produk yang saya hasilkan tidak laku di pasaran karena harga yang lebih tinggi dibandingkan dengan produk impor dengan harga yang lebih murah.
Sudah saatnya produsen dalam negeri mencari cara untuk melakukan efisiensi di proses produksi sehingga bisa menghasilkan produk dengan harga yang lebih rendah dengan kualitas yang sama. Kendala di bahan baku harus dapat diselesaikan dengan bantuan pemerintah demi menjamin keberlangsungan produsen dalam negeri.
Neraca Perdagangan
Dilihat dari neraca perdagangan Indonesia dengan China, sebenarnya semenjak tahun 2007 Indonesia sendiri telah mengalami defisit untuk perdagangan non migas dan terus mengalami defisit hingga awal tahun 2011 ini (Produk China di Setiap Lini, Kompas, 11 April 2011). Akan tetapi negara-negara ASEAN lain terutama Malaysia, Singapura, Filipina dan Brunei dapat memanfaatkan ACFTA ini dimana mereka mengalami surplus perdagangan (Ekspor-Impor bernilai positif).
| PE = Pertumbuhan Ekspor | PI = Pertumbuhan Impor |
Surplus
Malaysia: PE 137.65%, PI 51.04%
Singapura: PE 37.40%, PI 29.79%
Brunei: PE 103.40%, PI 64.63%
Filipina: PE 265.83%, PI 155.80%
Defisit
Indonesia: PE 25.08%, PI 54.97%
Thailand: PE 28.65%, PI 37.98%
Vietnam: PE 25.72%, PI 53.04%

ASEAN Map. Source
Raul L. Cordenillo (Senior Officer, Studies Unit, Bureau for Economic Integration, ASEAN Secretariat) dalam tulisannya yang berjudul The Economics Benefits to ASEAN of the ASEAN-China Free Trade Area (ACFTA) yang dipublikasikan di website ASEAN Secretariat pada tanggal 18 January 2005 menuliskan bahwa setidaknya terdapat tiga manfaat ACFTA dilihat dari sisi ekonomi;
- Enlarged Market Size and Enhanced Trade
ACFTA akan menyediakan kawasan ekonomi dengan 1.7 miliar konsumen, PDB sekitar US $ 2 triliun dan total perdagangan diperkirakan mencapa US $ 1.23 triliun. Hal ini menjadi ACFTA menjadi FTA terbesar di dunia berdasarkan jumlah populasi.
- Removal of Trade Barriers, Specialisation and Enhanced Economic Efficiency
Fitur utama dari ACFTA adalah penghilangan batasan perdagangan berupa tarif masuk bagi produk impor. Penghapusan tarif masuk tersebut akan menurunkan biaya transaksi perdagangan, volume perdagangan akan meningkat dan meningkatkan efisiensi ekonomi.
Karena biaya impor turun dari aliran produk dari satu negara ke negara anggota yang lainnya, maka spesialisasi dalam proses produksi akan terjadi sehingga meningkatakan pendapatan riil di ASEAN maupun China karena sumber daya akan mengalir ke sektor-sektor yang lebih efisien dan produktif.
- Improved Investments Prospects
Investasi di ASEAN-China tidak hanya akan didominasi oleh perusahaan dari negara anggota ACFTA, tetapi investasi dari perusahaan Amerika Serikat, Jepang dan Uni Eropa akan meningkat seiring dengan terintegrasi pasar di kawasan ACFTA karena resiko dan ketidakpastian pasar akan semakin kecil.

China Map. Source
Pemerintah (Belum) Siap
Saya tidak menuliskan bahwa pemerintah tidak siap akan dampak dari ACFTA ini, akan tetapi pemerintah Indonesia belum siap menghadapi dampak dari ACFTA ini. Ada banyak sebab yang mengakibatkan Indonesia belum siap terutama dari sisi internal Indonesia sendiri dimana saat ini pemerintah disibukkan dengan berbagai macam masalah yang membuat pemerintah tidak bisa fokus penuh di ACFTA.
Permasalahan tersebut melingkupi; Skandal Century, Gayus Tambunan, korupsi yang terus berlarut-larut, heboh Wikileaks, Malinda Dee hingga perombak Somalia yang menawan 20 ABK Sinar Kudus.
Pertanyaan besarnya adalah “sampai kapan kita (pemerintah) akan terus mengeluh tentang dampak negatif dari ACFTA?”.
Kita ini bangsa besar, maka kita harus berpikir bahwa kita besar sehingga negara lainnya akan mengakui bahwa kita ini memang bangsa yang besar.
Yangki Imade Suara dari Kota Bandung, Indonesia

@yangkiimade
-6.896878
107.621774